Tempat wisata ini dulunya lokasi eksekusi mati di zaman penjajahan

EQUITYWORLD FUTURES – Pulau Nusakambangan menjadi saksi bisu eksekusi mati 5 terpidana mati, Minggu (18/1) lalu. Di pulau tersebut enam terpidana mati kasus narkoba menjalani hukuman mati dengan ditembak oleh regu tembak dari Brimob Polda Jateng.

Nusakambangan selama ini memang dikenal sebagai pulau penjara. Bahkan di sana sering dijadikan tempat eksekusi para terpidana mati.

Namun lokasi eksekusi mati tidak hanya Nusakambangan. Di zaman penjajahan belanda, banyak lokasi yang sering dijadikan tempat eksekusi mati. Di antara lokasi-lokasi tersebut, beberapa masih ada hingga kini. Namun lokasi tersebut tidak lagi dijadikan tempat eksekusi mati tetapi lokasi wisata.

Berikut beberapa tempat yang dulunya dijadikan lokasi eksekusi mati tetapi kini jadi tempat wisata:

1. Sejarah sadis di lapangan Museum Fatahillah

Senja di Lapangan Fatahillah sangat berbeda dengan senja di tempat lain di Jakarta. Meski mungkin sama-sama riuh, menghabiskan matahari di tengah kepungan bangunan tua menghadirkan nuansa yang sama sekali berbeda. Namun siapa sangka di tempat ini dulu banyak orang dieksekusi mati oleh pemerintah kolonial Belanda.

Di Museum Fatahillah, lima meriam yang dipasang konon adalah pendamping meriam Si Jagur yang kini dipasang dekat Kantor Pos Besar. Si Jagur adalah meriam legendaris milik Portugis yang dibangun di Macao dan ditempatkan di benteng St Jago de Barra dekat pantai.

Meriam seberat 3,5 ton itu kemudian dipindah untuk memperkuat benteng di Malaka melawan Belanda tahun 1641. Portugis yang kalah akhirnya merelakan meriam itu diangkut Belanda. Penduduk setempat yang repot menyebut benteng asal meriam di St Jago de Barra menyingkatnya menjadi si Jagur.

“Dinamai Si Jagur oleh orang Betawi karena meriam-meriam besar itu bunyinya jegur-jegur,” tutur Khasirun Musakhir Pengelola dan Perawatan Museum Sejarah Jakarta, Sabtu (22/11) kemarin. Konon kembaran Si Jagur juga ada di Banten dengan nama Ki Amukdan Nyi Setomi di Surakarta.

Seperti stadhuis atau balai kota di seluruh Eropa abad ke-17, Jan Pieterszoon Coen ketika membangun balai kota untuk Batavia juga melengkapinya dengan stadhuis plein atau alun-alun kota.

Dia juga menempatkan sebuah air mancur bersegi delapan sebagai sumber air bagi masyarakat setempat yang diambilkan dari Pancoran Glodok melalui jaringan pipa bawah tanah.

Selain berfungsi sebagai tempat keceriaan dengan pasar rakyat atau pekan raya di era itu stadhuis plein adalah tempat eksekusi. Pengumuman eksekusi biasanya dilakukan pagi hari ketika bel berukir soli deo gloria di atap Stadhuis berbunyi. Eksekusi lazim dilakukan sore harinya.

Pada tahun 1973 Pemda DKI Jakarta memfungsikan kembali taman tersebut dengan memberi nama baru yaitu Taman Fatahillah sebagai penghormatan kepada panglima Fatahillah pendiri kota Jakarta.

2. Alun-alun Bekasi tempat eksekusi mati

Alun-alun di Jalan Veteran, Bekasi Selatan sering ramai dikunjungi warga. Namun di lapangan rumput ini dulunya banyak orang orang dieksekusi karena melawan pemerintah kolonial Belanda.

Pada tahun 24 Agustus 1870, delapan narapidana menjalani hukuman mati di tempat ini. Para terhukum mati ini bukan para kriminal biasa. Mereka termasuk orang yang ikut terlibat pemberontakan yang terjadi di Tambun, di kala itu.

Eksekusi di zaman Belanda dilakukan terang-terangan di siang hari bolong, di lapangan terbuka, dan disaksikan banyak orang. Hal ini dilakukan supaya orang-orang atau warga khususnya pribumi takut berbuat jahat atau melakukan pemberontakan kepada pemerintah kolonial. Di alun-alun Bekasi ini lah dulu banyak orang-orang dihukum mati.

Eksekusi hukuman mati di tempat terbuka sudah biasa dilakukan Belanda sejak awal zaman VOC, pada abad ke-17. Pada masa itu pelaksanaan hukuman mati selalu dilakukan di tengah lapangan Balaikota Batavia yang sekarang menjadi Taman Fatahillah di Kota Tua Jakarta.

3. Tentara Belanda dieksekusi sadis oleh Jepang di Lawang Sewu

Lawang Sewu saat ini menjadi ikon kota Semarang tempo dulu. Gedung tua yang berada di pusat Kota Semarang ini sebelum zaman penjajahan Jepang adalah kantor perkeretaapian yang dikelola pemerintah kolonial Belanda. Namun dahulu, tempat ini adalah tempat eksekusi mati.

Di dalam bangunan ini terdapat banyak bungker-bungker. Pada masa penjajahan Jepang, bungker-bungker di lawang Sewu itu dijadikan penjara dadakan untuk menahan para pejuang dan tentara Belanda yang tertangkap. Selain itu, tempat itu dijadikan sebagai tempat penyiksaan dan eksekusi mati tentara Belanda. Termasuk menyiksa beberapa noni Belanda yang dilakukan oleh tentara Jepang.

Penjara ini pada masa itu sering disebut sebagai penjara jongkok. Lima sampai sembilan orang dimasukan dalam sebuah kotak sekitar 1,5 x 1,5 meter dengan tinggi sekitar 60 cm, mereka jongkok berdesakan lalu kolam tersebut diisi air seleher. Kemudian kolam tersebut ditutup terali besi sampai mereka semua mati. Di ruang bawah tanah itu juga terdapat 16 kolam di setiap ruangan, delapan ruangan bagian kanan dan delapan bagian kiri.

Selain itu, di ruang bawah tanah itu juga terdapat penjara berdiri. Lima sampai enam orang dimasukan dalam sebuah kotak berdiameter sekitar 60 cm x 1 meter, mereka berdiri berdesakan kemudian ditutup pintu besi sampai mereka semua mati. Jika dalam seminggu mereka yang dipenjara jongkok dan penjara berdiri masih hidup, maka kepala mereka dipenggal dalam ruangan khusus. Mereka menggunakan bak pasir untuk mengumpulkan mayat tersebut. Seluruh mayat dibuang ke kali kecil yang terletak di sebelah gedung tersebut.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s