Menebak lakon Petruk Dadi Ratu ala Yusril

EQUITYWORLD FUTURES – Mantan Mensesneg Yusril Mahendra ternyata juga ikut meramaikan gonjang-ganjing KPK vs Polri lewat kicauannya di Twitter. Melalui akun @Yusrilihza_Mhd mengunggah foto ‘Petruk Dadi Ratu’ dengan status, “Hehe lakon wayang Petruk Dadi Ratu to?”

Sebelum mengunggah foto itu, Yusril menulis tentang ribut-ribut pemberhentian Kapolri Jenderal Sutarman. Dia mengaku ingat betul tentang pembahasan RUU Kepolisian. Menurut dia, pengangkatan dan pemberhentian kapolri seharusnya satu paket atas persetujuan DPR. Presiden juga wajib menyertakan alasan-alasannya.

“Alasan mendesak itu hanya 2 yakni jika Kapolri melanggar sumpah jabatan atau membahayakan keamanan negara. Dalam keadaan seperti dlm angka 9 itulah Presiden dpt berhentikan Kapolri dan tunjuk Plt tanpa persetujuan DPR,” ujar Yusril, mantan Menteri Sekretaris Negara era Presiden SBY itu.

Lalu apakah maksud kicauan Yusril soal lakon ‘Petruk Dadi Ratu’ itu? Benarkah Yusril sedang menyindir presiden atau ratu saat ini yakni Jokowi?

Lakon Petruk Dadi Ratu sendiri punya banyak tafsir dan cerita. Ada yang menyebut bahwa lakon tersebut pendobrakan terhadap tatanan yang ada. Petruk lalu membuat ontran-ontran dan ingin menyadarkan para ksatria atau para pemimpin. Hal yang menarik karena Petruk sendiri dianggap perwujudan kawulo alias rakyat jelata.

Dalam versi ini Petruk marah lantaran para ksatria sibuk memikirkan dirinya sendiri dan tidak perduli dengan rakyatnya.

Namun dalam versi lain, lakon Petruk Dadi Ratu juga bisa dikisahkan sebagai orang yang menyalahgunakan amanat. Amanat atau kepercayaan yang dititipkan justru disalahgunakan secara sewenang-wenang demi kepentingan pribadi.

Hal itulah yang pernah ditulis oleh Suyadi, dalam buku ‘Petruk Dadi Ratu’. Buku yang ditulis secara jenaka itu berusaha menggambarkan Petruk yang digariskan sebagai penghibur, pembantu dan penasihat raja dan para ksatria justru menjadi raja.

Lakon (versi Drs Suyadi) Petruk Jadi Raja berkisah tentang malapetaka yang menimpa negeri Amerta. Jamus Kalimasadha yang dipandang pusaka, sempat hilang dicuri. Ketika berhasil direbut kembali oleh Pandawa, maka diutuslah Petruk untuk membawa pusaka tersebut sekaligus melindunginya kembali ke Negeri Amarta.

Namun Petruk berusaha membuktikan keampuhan pusaka tersebut. Dalam perjalanan ke kerajaan Amarta, Petruk menantang raja-raja di wilayah yang dilaluinya. Dengan memegang Jamus Kalimasadha, Petruk pun dengan mudah mengalahkan raja-raja tersebut.

Petruk pun lalu memilih menjadi raja atau ratu di kerajaan kecil itu. Namanya pun diubah menjadi Prabu Wel Geduelbeh. Rupanya yang jelek pun dia vermak hingga nampak gagah dengan pakaian ala seorang prabu.

Tak puas hanya menaklukan raja-raja kecil, Petruk alias Prabu Wel Geduelbeh ingin menantang kerajaan Amarta. Singkat cerita semua ksatria Amarta dikalahkan Petruk karena memegang Jamus Sakti tersebut. Bima, Arjuna dan Gatotkaca pun tak sanggup berkutik melawan Petruk.

Karena penampilan dan wajahnya sudah berubah, para Pandawa pun tidak mengetahui bahwa Prabu Wel Geduelbeh sejatinya adalah Petruk, abdi mereka.

Setelah dikalahkan, Bima, Arjuna dan Gatotkaca mau tidak mau harus tunduk mengikuti perintah sang Prabu. Namun, di sinilah mulai kacaunya kepemimpinan sang Petruk. Petruk memberi tugas berdasarkan kesukaan pribadi, bukan atas dasar kemampuan.

Bima yang perkasa ditunjuk sebagai penjaga keamanan Istananya. Orang-orang yang ingin menantangnya harus berhadapan terlebih dahulu dengan gada sakti milik Bima.

Gatotkaca yang bisa terbang jadi food provider. Tugasnya setiap hari terbang dan memetik buah-buahan yang lezat untuk disajikan kepada sang prabu. Hewan-hewan buruan di hutan juga ditangkapi oleh Gatotkaca untuk dijadikan gulai kesukaan sang prabu.

Lebih miris lagi nasib Arjuna. Pandawa nomor tiga ini dijadikan sebagai mantri pengatur pedagang di pasar. Ini dilakukan petruk karena wajah Arjuna yang rupawan merupakah daya tarik bagi ibu-ibu dan remaja wanita. Diharapkan, pasar akan semakin ramai orang berbelanja dengan adanya mantri yang ganteng.

Singkat cerita, Prabu Kresna yang tahu asal-usul Prabu Wel Geduelbeh lalu mengutus Gareng dan Bagong. Menurutnya, Prabu Wel Geduelbeh tidak bisa dikalahkan oleh para ksatria manapun. Yang bisa mengalahkannya yakni saudara mereka sendiri, sesama punakawan anak dari Lurah Semar. Maka kemudian diutuslah Gareng dan Bagong.

Dan benar saja, Gareng dan Bagong akhirnya bisa membongkar kedok si Petruk. Petruk dikalahkan dengan cara diitik-itik sehingga akhirnya mengaku kalah.

Prabu Wel Geduelbeh akhirnya kembali berubah wujud seperti aslinya. Jamus Kalimasadha pun akhirnya diberikan kepada pemiliknya yang sah yakni Prabu Puntadewa alias Yudistira, kakak pertama dari Pandawa Lima.

Lalu lakon Petruk Dadi Ratu versi manakah yang dimaksud Yusril dalam gonjang-ganjing kali ini?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s