Sakit di Indonesia, Mereka Terpaksa Berobat ke Timor-Leste

EQUITYWORLD FUTURES – Di tengah gelombang tinggi dan angin kencang, Hamis Dolimotong (65) diangkut dengan perahu motor menuju Pulau Atauro, Timor- Leste. Penyakit kanker anus yang dideritanya tak bisa ditolong di puskesmas di Pulau Lirang, Kabupaten Maluku Barat Daya, Maluku. Lambat ditangani, Hamis akhirnya meninggal.

Kala itu, Hamis didampingi istrinya, Djadia Masura (64), serta anaknya, Irianti Dolimotong (27). Cuaca buruk membuat waktu perjalanan yang biasanya 30 menit menjadi hampir 1 jam. Padahal, jarak di antara dua pulau itu hanya 4,6 mil laut atau sekitar 7,4 kilometer.

Setelah tiba di Pulau Atauro, Hamis dibawa ke rumah sakit setempat. Namun, karena minimnya fasilitas, tim dokter memutuskan merujuk Hamis ke Dili, ibu kota Timor-Leste yang berada di Pulau Timor. Tak lama, sebuah helikopter milik Pemerintah Timor-Leste datang dari Dili ke Atauro khusus menjemput Hamis.

Di Dili, Hamis dirawat selama lebih dari dua bulan. Namun, karena kanker anus yang diderita sudah stadium tinggi, nyawanya tidak tertolong. “Selama di sana, pengobatan almarhum bapak saya gratis,” kata Irianti.

Ketika Kompas mendatangi rumah almarhum pada 2 April lalu, suasana duka masih menyelimuti keluarga mereka. Terpal tenda duka yang terpasang di halaman rumah belum diturunkan. Banyak kerabat masih berkumpul di rumah itu.

Kanker anus yang menyerang Hamis baru diketahui dari hasil diagnosis dokter di Dili. Kata dokter kepada keluarga, kanker yang diderita Hamis sudah menahun. Kanker tidak terdeteksi di Puskesmas Lirang sebab tidak ada tenaga medis khusus menangani penyakit semacam itu. Belum lagi minimnya peralatan kesehatan.

Kesan terhadap pelayanan kesehatan di Dili, kata Irianti dan Djadia, sangat memuaskan. Pihak rumah sakit tidak melihat dari mana asal pasien. “Banyak dokter pernah studi di Indonesia sehingga mereka bisa berbahasa Indonesia. Mereka tanya, kenapa tidak ke Jakarta, Ambon, atau Kupang? Lalu saya jawab, terlalu jauh. Keluarga kami tidak punya uang yang cukup,” kenang Irianti.

Thomas Tena (53), warga Pulau Lirang, juga mempunyai pengalaman mengantar keluarganya berobat ke Dili. Ketika anaknya, Meske Tena (30), hendak melahirkan pada 2012, mereka membawanya ke Dili karena tidak bisa dibantu di Puskesmas Lirang. Meske tidak bisa melahirkan normal dan harus melalui operasi, tetapi di puskesmas setempat tidak ada alat operasi dan dokter ahli.

Keluarga membawa Meske menggunakan perahu motor dari Lirang langsung ke Dili dengan waktu tempuh sekitar 4 jam. Kendati ditangani dokter dengan baik, cucu Thomas tidak selamat. Lagi-lagi karena lambatnya penanganan. “Air ketuban sudah keluar sejak kami masih di Lirang dan waktu itu sudah malam. Ini risiko tinggal di daerah yang jauh dari rumah sakit,” ujarnya.

Ada juga kisah Rulan Malau (39) yang membawa dua anaknya, Rahel Kristian (8) dan Lasarus Agustinus (6), ke Dili pada Desember 2015 menggunakan perahu motor. Keduanya menderita penyakit paru-paru dan dirawat di Dili hingga benar-benar sembuh. Seperti warga Lirang lain, selama hampir tiga minggu di sana, dua anak Rulan mendapat pelayanan gratis.

Tak memberi rujukan

Kepala Puskesmas Ustutun, Pulau Lirang, Izhaak Salaman mengatakan, banyak warga berobat ke Timor-Leste karena minimnya fasilitas dan tenaga medis di Maluku Barat Daya. Beberapa pasien itu meninggal, baik ketika di Dili maupun saat dalam perjalanan dari Lirang ke Dili. Tahun 2013, 1 orang yang meninggal, 2014 (1 orang), 2015 (2 orang), dan 2016 (1 orang).

Puskesmas di Lirang berstatus rawat jalan dan tidak memiliki dokter. Petugas kesehatan yang ada hanya empat perawat dan satu bidan. Tahun 2013 pernah ada satu dokter pegawai tidak tetap yang bertugas di Lirang. Setelah masa kontraknya selesai, ia pulang dan belum ada penggantinya.

Izhaak menuturkan, pihaknya tidak berani memberikan rujukan ke Dili. Mereka tidak mempunyai dasar hukum sebab sudah lintas negara. Namun, mereka juga tidak bisa melarang warga ke Dili. Warga hanya membawa surat pengantar dari kepala desa setempat. “Kami tidak mengeluarkan rujukan, tetapi kami sarankan yang terbaik untuk mereka. Bagaimanapun, nyawa manusia harus diselamatkan,” kata Izhaak.

Berobat ke Timor-Leste merupakan pilihan terbaik warga Lirang. Jika memilih ke Ambon, ibu kota Provinsi Maluku atau Kupang, Nusa Tenggara Timur, diperlukan waktu perjalanan lebih lama dan ongkos yang lebih mahal. Lama pelayaran kapal perintis dari Lirang ke Kupang sekitar dua hari dan dari Lirang ke Ambon hampir satu minggu.

Irianti, Thomas, Rulan, serta beberapa warga Lirang mengatakan, kebaikan hati Pemerintah Timor-Leste semata-mata karena kemanusiaan. Tidak ada motif lain di luar itu. Terlebih lagi, ada kedekatan budaya dan hubungan keluarga antara Lirang dan Timor-Leste yang sudah terjalin sebelum Timor-Leste berpisah dari Indonesia. Di Pulau Lirang terdapat lebih kurang 1.300 jiwa.

J Mascarenhas (29), warga Dili, yang ditemui di Lirang, membenarkan hal itu. Pemerintah dan masyarakat Timor-Leste tidak mungkin menutup mata melihat kesulitan warga Lirang. “Keselamatan manusia di atas segalanya. Kalau ada pasien dari Lirang yang dibawa dengan perahu motor, kami jemput dan antar ke rumah sakit di Dili,” ucapnya.

Namun, kondisi semacam itu tidak bisa dibiarkan berlangsung terus-menerus. Ini secuil bukti bahwa pembangunan wilayah perbatasan yang selama ini diklaim sebagai beranda negeri belum berseri.

Pemenuhan kebutuhan dasar, seperti kesehatan, masih jauh dari harapan. Tak mau menyerah dengan penyakit, warga pun berjuang sendiri.

Sebelum meninggalkan Pulau Lirang, beberapa warga menitipkan salam hangat untuk Presiden Joko Widodo.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s