Di Desa Sukarara, Warga Menenun Kain Kafannya Sendiri

EQUITYWORLD FUTURES – Bunyi alat tenun tradisional terdengar bersahut-sahutan saat memasuki Dusun Ketangga, Desa Sukarara, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Siang itu, di salah satu rumah, Inaq Murdan (50) sibuk menenun helai demi helai benang berwarna putih yang akan dijadikan leang atau kain kafan. Kain leang ini bukan untuk dijual, tetapi untuk dipakai sendiri.

“Tidak dijual, ini untuk saya dan keluarga saya nanti. Kan banyak anak cucu saya. Tapi kalau ada orang kepepet ya saya kasih (untuk dijual) satu atau dua lembar,” kata Inaq Murdan.

Dia adalah satu dari ribuan penenun di Desa Sukarara yang menenun kain kafannya sendiri. Mereka memilih menenun kain kafannya sendiri daripada membeli kain kafan yang sudah jadi dan dijual di pasar.

“Umur kita tidak bisa kita tentukan sendiri. Supaya jangan buat susah orang yang ditinggal nanti,” kata Inaq Murdan.

Saat ini, Inaq Murdan sudah memiliki enam lembar kain leang. Dia mengatakan, untuk membungkus jenazah perempuan biasanya membutuhkan lima lembar kain leang. Sementara itu, untuk laki-laki membutuhkan tiga lembar kain leang.

Kain leang dibuat dari benang kapas. Benang yang digunakan untuk menenun leang terlebih dahulu dimasak bersama nasi. Tujuannya agar benang lebih kuat dan tidak mudah putus.

Bagi Inaq Murdan, saat menenun kain leang adalah saat dimana dia merasa selalu diingatkan bahwa setiap manusia yang hidup itu pasti akan mati.

Setelah kain leang selesai ditenun, kain ini akan disimpan pemiliknya untuk dikenakan pada waktunya nanti. Tidak hanya Inaq Murdan yang telah menyimpan kain leang.

Sunardi, Kepala Dusun Ketangga, mengaku, sudah menyimpan tiga lembar kain leang untuk dikenakannya kelak jika sudah meninggal.

KOMPAS.com/ Karnia Septia Benang untuk menenun leang

“Baru lima bulan lalu saya simpan,” kata Sunardi.

Bagi kaum lelaki, kain kafan mereka sekeluarga akan ditenun oleh istri atau anggota keluarga perempuan di rumahnya. Di desa ini, menenun merupakan tradisi yang dilakukan oleh setiap perempuan dan anak gadis.

Dia menambahkan, jika belum memiliki kain leang warga di dusun ini biasanya menyimpan benang kapas yang digunakan sebagai bahan baku menenun kain leang.

“Kalau nggak simpan kain leang, kita simpan benangnya dulu,” kata Sunardi.

Namun, Sunardi mengatakan, karena perkembangan zaman, sudah ada sebagian warga yang membeli kain kafan di pasar. Walaupun demikian, menurut dia, minimal ada satu lembar kain leang yang disimpan di setiap rumah.

Desa Sukarara adalah salah satu desa wisata di Kabupaten Lombok Tengah yang mayoritas penduduk wanitanya bekerja sebagai penenun.

Berbagai motif kain tenun seperti Subhanala, Keker, Kiping, Bulan Begantung, Subhanala Bangket, Subhanala Lepang, Subhanala Barong hingga motif Rang-rang, dihasilkan dari tangan-tangan terampil wanita di desa ini.

Namun, selain menenun kain-kain indah, warga di Desa Sukarara juga menenun kain kafannya sendiri.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s