PwC: 40 Perusahaan Tambang Dunia Alami Kerugian Sekitar Rp 364,5 Triliun

EQUITYWORLD FUTURES – Riset Pricewaterhouse Coopers untuk industri tambang global berjudul ‘Slower, lower, weaker… but not defeated – Mine 2016’ menyebutkan 40 perusahaan tambang global alami kerugian kolektif terbesar pertama dalam sejarah hingga 27 miliar dollar AS atau sekitar Rp 364,5 triliun (kurs Rp 13.500) sepanjang 2015.

“Tahun lalu merupakan tahun penuh tantangan bagi sektor pertambangan,” ujar Jock O’Callaghan, Global Mining leader di PwC, melalui rilis pers ke Kompas.com.

Penurunan harga komoditas sebesar 25 persen dibandingkan tahun sebelumnya menekan perusahaan pertambangan untuk berupaya keras meningkatkan produktivitas. Beberapa di antaranya berjuang untuk bertahan, diikuti dengan pelepasan aset atau penutupan usaha.

“Kami juga melihat bagaimana pemegang saham bersikeras untuk berfokus pada jangka pendek, yang berdampak pada ketersediaan modal untuk diinvestasikan dan mengakibatkan terbatasnya opsi untuk pertumbuhan,” lanjut O’Callaghan.

“Namun industri ini adalah industri yang tangguh, meskipun perusahaan pertambangan kini sedang mengalami penurunan namun jelas mereka masih bertahan.”

Indonesia

Pada tahun 2015, tidak ada perusahaan pertambangan di Indonesia dengan kapitalisasi pasar melebihi 4 miliar dollar AS, batas terendah agar dapat masuk dalam jajaran 40 perusahaan pertambangan terbesar di dunia berdasarkan kapitalisasi pasar.

Namun, sejalan dengan industri pertambangan global, perusahaan pertambangan di Indonesia juga berjuang menghadapi penurunan harga komoditas dan menurunnya permintaan dari Tiongkok dan negara berkembang lainnya.

Hal ini menyebabkan penurunan yang signifikan atas kinerja keuangan perusahaan pertambangan di Indonesia.

Sacha Winzenried, Lead Adviser for Energy, Utilities & Mining PwC Indonesia, mengatakan kapitalisasi pasar keseluruhan perusahaan pertambangan yang tercatat di Bursa Efek Indonesia turun dari Rp 255 triliun pada tanggal 31 Desember 2014 menjadi Rp 161 triliun pada tanggal 31 Desember 2015.

Penurunan sebesar 37 persen ini terutama dipicu oleh jatuhnya harga komoditas. Namun, pada tanggal 30 April 2016, kapitalisasi pasar perusahaan pertambangan yang tercatat di Bursa Efek Indonesia meningkat sebesar 23 persen menjadi Rp 198 triliun.

Hal ini sejalan dengan kenaikan harga sejumlah komoditas selama empat bulan pertama tahun 2016, dan perbaikan keyakinan investor terhadap sektor pertambangan Indonesia mengingat tindakan yang telah dilakukan untuk mengantisipasi dampak penurunan harga komoditas.

“Serupa dengan perusahaan pertambangan global, perusahaan pertambangan di Indonesia akan terus berfokus pada produktivitas, pengurangan biaya dan disiplin modal selama masa sulit industri ini,” kata Winzenried.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s